oleh

Hotmix Kopo–Bihbul Dikerjakan Malam, Permukaan Lebih Kasar: Kekhawatiran Dedi Mulyadi Seolah Terjawab di Lapangan.

KABUPATEN BANDUNG — Pekerjaan rekonstruksi jalan pada ruas Jalan Kopo–Bihbul hingga Desa Sayati, Kecamatan Margahayu, Kabupaten Bandung, menjadi sorotan setelah hasil pekerjaan hotmix secara visual tampak lebih kasar dibandingkan pekerjaan di Jalan Raya Soreang, Kecamatan Soreang, yang dikerjakan pada siang hari.

Berdasarkan dokumentasi lapangan, permukaan hotmix di ruas Kopo–Bihbul terlihat kasar, tidak seragam, dengan butiran agregat cukup menonjol dan terdapat sejumlah rongga pada permukaan. Kondisi tersebut berbeda dengan pekerjaan hotmix di Jalan Raya Soreang yang secara kasatmata terlihat lebih rapi dan relatif lebih homogen.Perbedaan tersebut menjadi perhatian karena proyek ini merupakan pekerjaan Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat dengan nilai kontrak mencapai Rp11.394.632.656,42, bersumber dari APBD Provinsi Jawa Barat Tahun Anggaran 2026.

Pekerjaan berada di bawah pengawasan Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang (DBMPR) Provinsi Jawa Barat melalui UPTD Wilayah Pelayanan III. Berdasarkan informasi proyek, pekerjaan dilaksanakan oleh CV. Nawasena Parikesit Perkasa, dengan konsultan supervisi PT. Secon Dwitunggal Putra KSO bersama PT. Nusa Karya Pembangunan.Dugaan Teknis di Balik Permukaan KasarPermukaan hotmix yang tampak kasar dan berongga memunculkan sejumlah dugaan teknis.

Di antaranya suhu campuran saat penghamparan dan pemadatan, proses pemadatan yang kurang optimal, jumlah lintasan roller, segregasi agregat, gradasi material, hingga komposisi campuran.Pekerjaan yang dilakukan malam hari juga menimbulkan dugaan bahwa penurunan temperatur campuran perlu menjadi perhatian. Jika temperatur material turun terlalu cepat sebelum proses pemadatan selesai, campuran dapat lebih sulit dipadatkan secara optimal.

Dugaan lainnya berkaitan dengan waktu dimulainya pemadatan, kecepatan alat, jumlah lintasan roller serta proses penghamparan. Kondisi tersebut dapat berpengaruh terhadap tingkat kepadatan lapisan apabila tidak dikendalikan dengan baik.Tekstur permukaan yang memperlihatkan agregat kasar cukup dominan juga memunculkan dugaan segregasi atau distribusi agregat yang kurang merata. Sementara komposisi agregat kasar, agregat halus, filler dan kadar aspal menjadi bagian yang secara teknis perlu diperhatikan dalam menghasilkan permukaan campuran yang homogen.

Rongga Kasar, Bagaimana Jika Hujan Turun?Persoalan yang menjadi perhatian bukan hanya tampilan permukaan yang kasar, tetapi juga rongga-rongga yang terlihat pada permukaan hotmix.Jika rongga tersebut menunjukkan pori yang relatif terbuka, kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana lapisan perkerasan akan menghadapi air hujan.

Secara teknis, air yang masuk ke dalam pori atau rongga lapisan perkerasan dapat menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap penurunan kualitas apabila kondisi tersebut berkaitan dengan kepadatan yang tidak memenuhi persyaratan. Air yang masuk ke dalam struktur perkerasan juga dapat memengaruhi ikatan aspal dan agregat serta mempercepat potensi kerusakan apabila berlangsung terus-menerus dan disertai beban lalu lintas.Artinya, permukaan yang kasar dan berongga bukan sekadar persoalan estetika.

Kondisi tersebut patut menjadi perhatian karena jalan akan berhadapan langsung dengan hujan, genangan, serta beban kendaraan setelah dibuka untuk lalu lintas.Pernyataan Dedi Mulyadi Kembali RelevanKondisi tersebut seolah membuat pernyataan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengenai pengerjaan pengaspalan pada malam hari kembali relevan.

Dalam pemberitaan Kompas.com pada 27 Oktober 2025, Dedi menyoroti pelaksanaan proyek jalan pada malam hari yang menurutnya rawan terhadap kesalahan teknis akibat kondisi suhu udara dan kelembapan yang tidak ideal untuk proses pengaspalan.Pernyataan tersebut kini menarik jika dikaitkan dengan kondisi visual pekerjaan di Kopo–Bihbul.Pekerjaan Kopo–Bihbul dilakukan malam hari dan hasil permukaannya tampak lebih kasar serta berongga.

Sementara pekerjaan di Jalan Raya Soreang dilakukan siang hari dan secara visual terlihat lebih rapi.Kondisi tersebut belum dapat dijadikan bukti bahwa pengerjaan malam hari merupakan penyebab langsung permukaan kasar. Namun, perbedaan tersebut membuat faktor temperatur, kelembapan, proses pemadatan, metode penghamparan, gradasi agregat dan komposisi campuran layak menjadi perhatian.

Jika alasan pekerjaan dilakukan malam hari adalah untuk menghindari kemacetan lalu lintas pada siang hari, maka kualitas hasil pekerjaan tetap harus mampu menyamai pekerjaan yang dilakukan pada siang hari.Dengan nilai proyek mencapai lebih dari Rp11,3 miliar dari APBD 2026, masyarakat tentu berharap pekerjaan tersebut tidak hanya selesai secara fisik, tetapi juga mampu memberikan kualitas jalan yang baik dan tahan terhadap kondisi cuaca serta beban lalu lintas.Kini muncul pertanyaan sederhana namun penting:

Jika permukaan hotmix di Kopo–Bihbul tampak lebih kasar dan berongga dibandingkan pekerjaan di Jalan Raya Soreang, apakah kondisi tersebut berkaitan dengan metode pengerjaan malam hari, suhu material, proses pemadatan, atau faktor teknis lainnya?Dan yang tidak kalah penting, bagaimana kondisi permukaan tersebut ketika hujan turun dan air mulai berhadapan dengan rongga-rongga pada lapisan hotmix ( Tim)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *