oleh

TIGA KALI ZONK! KPM PKH-BPNT DI WAY KANAN TERJEPIT, DAGANG DI WARUNG PAPAN UNTUK HIDUPI 2 ANAK DAN IBU SAKIT.

-Uncategorized-96 Dilihat

TIGA KALI ZONK! KPM PKH-BPNT DI WAY KANAN TERJEPIT, DAGANG DI WARUNG PAPAN UNTUK HIDUPI 2 ANAK DAN IBU SAKIT.

WAY KANAN Lampun Metro Indonesia News * – Tiga kali berturut-turut gagal cair. Itulah yang dialami *Sriani*, warga RK 07 RT 08, Kampung Sukabumi SP 2 C, Kecamatan Pakuan Ratu, Kabupaten Way Kanan, penerima bantuan *PKH dan BPNT* yang kini namanya hilang dari daftar.Padahal data kemiskinan 2025; kabupaten Waykanan menurun 9,36 namun pakta dilapangan berbeda dengan pakta pemerintah kabupaten Waykanan seharusnya mengecek langsung kebawah yang sebenarnya masih banyak masarakat yg membutuhkan bantuan.

Seperti halnya ibu sriani yg kelahiran 86 menuturkan kepada metro Indonesia beban hidupnya semakin berat. Di rumah papan yang minim, Sriani harus menghidupi 2 anak dan merawat ibunya yang sakit.“Udah 3 kali gesek kosong terus pak. Anak saya masih SD kelas 4, adiknya masih balita 4 tahun.

Gimana mau beli beras,” keluh Sriani di warung kecilnya, Senin 28 April 2026.*Berjualan di Rumah Papan yang Memprihatinkan*Berbeda dengan pedagang lain, Sriani tidak berjualan keliling. Ia hanya bisa *berjualan soto dan pecel di rumah* dengan peralatan seadanya. Di foto terlihat jelas: dinding papan yang lapuk, atap seng, lantai semen, dan meja kayu untuk meletakkan sayur dan kerupuk yang digantung. Itu semua adalah “dapur” sekaligus “warung” untuk menopang hidup satu keluarga.Suaminya hanya bekerja sebagai buruh serabutan.

Tak punya kebun, tak punya penghasilan tetap. Beban makin berat karena Sriani juga menanggung ibunya, *Sutarti 65 tahun*, yang menderita sakit gula dan kini tidak bisa berjalan. Punya 2 Komponen, Tapi Tercoret*Secara aturan Kemensos, keluarga dengan anak sekolah dan anak usia dini adalah prioritas utama penerima PKH. Keluarga Sriani justru memiliki keduanya.Ditambah kondisi rumah tidak layak huni, seharusnya nama Sriani masih tercatat di *DTSEN* sebagai Keluarga Penerima Manfaat.“Warga sini tahu. Beliau ini memang orang susah.

Masak iya dicoret,” ujar salah satu warga.Tuntut Verifikasi Ulang*Sriani kini hanya bisa berharap. Ia meminta *Pemerintah Kampung Sukabumi, Pendamping PKH Kecamatan Pakuan Ratu, dan Dinas Sosial Kabupaten Way Kanan* segera melakukan verifikasi dan pengusulan ulang data dirinya.“Bantuan itu buat beli beras, buat sekolah anak.

Tolong dicek lagi data saya pak,” pintanya.Hingga berita ini diturunkan, Dinas Sosial Way Kanan belum memberikan keterangan terkait penghentian bantuan tersebut.jurnalis ,S,Ependi& Mulyadi.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *